4/30/2011

BAHASA INDONESIA JURNALISTIK


Materi Kuliah  
dosen : Aden Hidayat,S.Sos M.Si   Up  Ass. Produser Tv One (Tokoh)


           Apakah pengertian Bahasa Indonesia Jurnalistik? Meski tidak ada definisi yang baku untuk menjelaskannya, pemahaman Bahasa Indonesia Jurnalistik bisa dipahami dari 2 pendapat berikut ini:
  1. RAS SIREGAR (Bahasa Jurnalistik)Pada hakekatnya, bahasa Indonesia jurnalistik sama saja dengan Bahasa Indonesia yang sudah kita ketahui. Penggunaannya tetap bersumber pada materi Bahasa Indonesia yang senantiasa berkembang. Namun dalam penggunaannya, Bahasa Indonesia Jurnalistik menggunakan bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan sikap-sikap publisistik. Atau bahasa yang digunakan oleh Pers, yang berciri khas pada Kata, Kalimat dan Isi Pernyataan.
  1. J.S BADUDU (Bahasa Indonesia Pers)Bahasa Indonesia Jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa, dengan sifat-sifat yang khas. Yaitu Singkat, Padat, Sederhana, Lancar, Jelas dan Menarik.
   Dari 2 pendapat tersebut, ciri-ciri Bahasa Indonesia Jurnalistik bisa dirumuskan sebagai berikut:
  1. Bahasa Indonesia yang digunakan media massa
  2. Menggunakan prinsip kalimat yang singkat
  3. Dalam kalimat singkat mengandung pengertian yang ‘padat’
  4. Meski singkat dan padat, dapat dimengerti dengan jelas
  5. Materi yang terkandung di dalam kalimatnya ‘menarik’ Pengertian menarik, untuk sifat materi dan cara penyampaiannya dan terakhir Kalimat tampil 'sederhana' tidak muluk-muluk
Menurut Drs. AS Haris Sumadiria M.Si, jika bahasa sinetron  sering asosial, akultural, egois dan elitis,  maka bahasa jurnalistik justru sangat demokratis dan populis.
  1. Demokratis, karena dalam bahasa jurnalistik tidak dikenal istilah tingkat, pangkat, dan kasta. Sebagai contoh: kucing makan, saya makan, guru makan, gubernur makan, menteri makan, presiden makan. Semua diperlakukan sama, tidak ada yang diistemawakan atau ditinggikan derajatnya.
  2. Populis, karena bahasa jurnalistik menolak semua klaim dan paham yang ingin membedakan si kaya dan si miskin, si tokoh dan si awam, si pejabat dan si jelata, si pintar dan si bodoh, si terpelajar dan si kurangajar. Bahasa jurnalistik diciptakan untuk semua lapisan masyarakat di kota dan di desa, di gunung dan di lembah, di darat dan di laut. Tidak ada satupun kelompok masyarakat yang dianak emaskan atau dianak tirikan oleh bahasa jurnalistik.
       Menurut Daryl L. Frazel dan Goerge Tuck, dua pakar pers Amerika dalam Principles of Editing, A Comprehensive Guide for Student and Journalist (1996: 122-123), pembaca berharap, apa yang dibacanya dalam media massa adalah yang bisa dimengerti tanpa bantuan pengetahuan khusus. Pembaca berharap, wartawan dapat menjelaskan ilmu pengetahuan kepada mereka yang bukan ilmuwan, perihal hubungan-hubungan internasional kepada mereka yang bukan diplomat. Dan masalah-masalah politik kepada para pemilih yang awam (to explain science to no scientists, international relation to nondiplomats, and politics to ordinary voters). 
      Bahasa berita atau laporan surat kabar, tabloid, majalah, radio, televisi dan media online internet yang tidak akrab di mata, telinga, dan benak khalayak, tidak layak disebut bahasa jurnalistik. Bahkan harus jelas-jelas ditolak sebagai bahasa jurnalistik. Sudah saatnya lembaga-lembaga pemantau media massa lebih vokal dalam menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak dasar masyarakat dalam menerima informasi yang aktual, benar, lengkap, akurat, jelas jernih dan terpercaya dari media. Apa yang disebut kekuatan negatif kapitalisme media dengan segala dimensi dan implikasinya, harus dilawan secara intelektual, kultural dan institusional.
 
KARAKTERISTIK BAHASA JURNALISTIK
    1. Sederhana. Selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca/pemirsa yang sangat heterogen (tingkat intelektualistasnya, tingkat demografis dan psikografis)
    2. Singkat. Langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga.
    3. Padat. Sarat informasi. Setiap kalimat dan paragraph yang ditulis memuat informasi penting dan menarik untuk khalayak.
    4. Lugas. Berarti tegas, satu arti, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufimisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga bisa terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.
    5. Jelas. Mudah ditangkap maksudnya.
    6. Jernih. Bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yagn bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah.
    7. Menarik. Mampu membangkitkan minat dan perhatian khayalak pembaca.
    8. Demokratis. Bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa.
    9. Populis. Setiap kata, istilah, atau kalimat apa pun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata dan benak khalayak.
    10. Logis. Apapun yang terdapat dalam kata, isitlah, kalimat atau paragraph jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat (common sense)
    11. Gramatikal. Kata, istilah atau kalimat apa pun yang dipakai dan dipilih dalam bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku.
    12. Menghindari kata Tutur, yaitu kata yang digunakan untuk percakapan (pergaulan) sehari-hari secara informal.
    13. Menghindari Kata dan Istilah Asing. Khalayak harus tahu arti dan makna setiap kata yang dibaca dan didengarnya.
    14. Pilihan Kata (diksi) yang tepat. Bahasa jurnalistik sangat menekankan efektifitas. Setiap kalimat yagn dipilih harus produktif : tepat dan akurat sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khalayak.
    15. Mengutamakan Kalimat Aktif, karena lebih gampang dicerna dan dipahami.
    16. Menghindari kata atau istilah teknis. Karena ditujukan untuk umum, maka hindari istilah yang tidak dimengerti oleh khalayak.
    17. Tunduk kepada kaidah etika. Fungsi salah satu media adalah edukasi, karena itu harus tercermin dalam materi berita, laporan, gambar dan bahasa yang digunakan.
Secara spesifik, bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya :
  1. bahasa jurnalistik surat kabar,
  2. bahasa jurnalistik tabloid,
  3. bahasa jurnalistik majalah,
  4. bahasa jurnalistik radio siaran,
  5. bahasa jurnalistik televisi
  6. bahasa jurnalistik media internet (on-line)
 RAGAM BAHASA SIARAN
             Dalam perkembangannya, bahasa pers menjadi salah satu ragam bahasa Indonesia diantara bahasa akademik (ilmiah), bahasa usaha (bisnis), bahasa filosofis, dan bahasa literer (sastra). Menurut pengamat bahasa Suroso, bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain. Walaupun begitu, bahasa jurnalistik tetap menganut kebakuan kaidah bahasa Indonesia dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis, dan wacana.
            Ketidak taatan pada bahasa baku ini kerap dilakukan Pers Indonesia. Banyak berita dibuat dengan berbagai cacat. Berbagai pengamat, di berbagai media, sering mempersoalkannya. Beberapa penyimpangan bahasa jurnalistik dibandingkan dengan kaidah bahasa Indonesia baku:
-           Kesalahan sintaksis
Kesalahan berupa pemakaian tata bahasa atau struktur kalimat yang kurang benar sehingga sering mengacaukan pengertian. Hal ini disebabkan logika yang kurang bagus.
Misal :
S = Kerajinan Kasongan banyak diekspor hasilnya ke Amerika Serikat
B = Hasil kerajinan desa Kasongan banyak diekspor ke Amerika Serikat
-           Kesalahan ejaan
Kesalahan ini hampir setiap kali dijumpai dalam surat kabar atau TV, seperti dalam penulisan kata.
Misal : Jadwal ditulis jadual

-           Kesalahan pemenggalan
Kesalahan ini banyak dijumpai dalam surat kabar, setiap ganti baris pada setiap kolom kelihatan asal penggal saja.

Penghematan Unsur Kata
            Beberapa kata di Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tata bahasa dan jelasnya arti. Misalnya :
agar supaya                  agar, supaya
akan tetapi                    tapi
apabila                         bila
sehingga                       hingga
meskipun                      meski
walaupun                      walau
tidak                             tak
daripada                       dari

Beberapa kata punya sinonim yang lebih pendek
Kemudian                     lalu
Makin                           kian
Terkejut                        kaget
Sangat                         amat
Demikian                      begitu
Sekarang                      kini

Ragam bahasa yang dipergunakan di dalam dunia penyiaran ada dua macam:
  1. Bahasa Formal (sesuai kaidah yang berlaku)
  2. Bahasa Informal atau bahasa tutur (bukan bahasa pergaulan)
Bahasa formal juga dipergunakan pada bahasa tulis, sedang bahasa informal (tidak resmi) adalah bahasa percakapan sehari-hari. Beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan jika menyusun naskah karya jurnalistik penyiaran:
    1. Pilih kata yang tepat dan pendek
    2. Hilangkan kata mubazir
    3. Penggunaan kalimat aktif lebih kuat dibanding kalimat pasif
    4. Hindari penggunaan kata-kata asing. Jika istilah asing bersifat tekniks dan terpaksa digunakan, maka istilah ini harus dijelaskan maknanya.
    5. Jika tidak perlu, hindari penggunaan kalimat majemuk
    6. Jangan menggunakan kalimat klise pada awal naskah. Kalimat klise adalah kalimat yang maknanya sudah bersifat umum. Misalnya
    7. §  Indonesia terletak diantara dua benua dan samudra
      §  Bumi itu bulat
Di dalam dunia penyiaran, ragam bahasa yang digunakan selain bahasa formal, juga bahasa tutur. Ragam bahasa penyiaran lebih banyak bertutur kepada khalayak. Bahasa tutur harus baik, tetapi tidak perlu benar. Artinya struktur kalimatnya berbeda dengan struktur bahasa formal. Biasanya, struktur bahasa yang digunakan Penyiar Berita bersdifat formal, sedangkan struktur bahasa yang digunakan reporter bersifat informal. Bahasa informal lebih komunikatif dan mudah dipahami jika didengar.

Presenter :
KEBAKARAN BESAR MELANDA KOTA SEMARANG / MENYEBABKAN 29 ORANG TEWAS / 24 LUKA-LUKA / DAN RATUSAN KEPALA KELUARGA KEHILANGAN TEMPAT TINGGAL // BERIKUT LAPORAN REPORTER KAMI DARI LOKASI KEJADIAN //

Reporter on Screen:

“… lagi-lagi kebakaran besar melanda kota Semarang. Kali ini, pemukiman padat penduduk menjadi mangsa amukan si jago merah. Api bermula dari ledakan kompor di warung bu Cicih, seperti diungkapkan seorang saksi mata”.
 
Dalam menyusun bahasa tutur perlu diperhatikan :
  • Struktur kalimat informal
  • Kalimat yang dipilih sederhana
  • Susunan kalimat ringkas dan sederhana
  • Makna kata dan kalimat mudah dipahami
  • Berpegang pada prinsip 'easy listening; yang maknanya enak didengar dan mudah dipahami pada pendengaran pertama.
  • Tidak menyajikan isi pesan secara terperinci karena isi pesan hanya didengar sekilas oleh khalayak. 
"Silahkan mengCopy Materi ini namun Jangan Lupa Cantumkan Sumber http://dederohali.blogspot.com terimakasih "

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan Lupa untuk meninggalkan jejak disini.. Ok?? "komentar"